22 Oktober 2026 - 09:48
Yaman Umumkan Serangan Rudal terhadap Pusat Operasi Militer Arab Saudi di Aden

Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan bahwa mereka telah menargetkan pusat operasi militer Arab Saudi di Kamp Badr, Provinsi Aden, menggunakan rudal balistik.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan bahwa mereka telah menyerang pusat operasi militer Arab Saudi di Kamp Badr, Provinsi Aden, menggunakan sebuah rudal balistik. Mereka menegaskan bahwa rudal tersebut berhasil mengenai sasaran dengan tepat.

Brigadir Jenderal Yahya Saree, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa operasi tersebut menghasilkan serangan langsung yang mengenai sasaran.

Dalam pernyataan lainnya, Saree membantah bahwa Angkatan Bersenjata Yaman telah melakukan operasi militer apa pun ke wilayah pedalaman Arab Saudi pada hari ini.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan terhadap klaim Arab Saudi mengenai pencegatan sejumlah drone di langit Kota Madinah.

Ia mengatakan: “Angkatan Bersenjata Yaman hari ini tidak melakukan operasi militer apa pun ke wilayah pedalaman Arab Saudi. Klaim musuh Saudi mengenai pencegatan drone di langit Madinah merupakan klaim palsu dan fitnah besar terhadap bangsa kami serta angkatan bersenjatanya yang terhormat dan berjihad.”

Ia menambahkan bahwa ketidakbenaran klaim-klaim tersebut telah terungkap, sehingga tidak ada lagi masyarakat di dunia Arab dan Islam yang mempercayainya.

Abdulsalam: Agresi Arab Saudi Tidak Berhasil Mencapai Tujuannya

Terkait persoalan tersebut, Mohammad Abdulsalam, Ketua Delegasi Perunding Pemerintah Yaman, menyambut baik seruan Syekh Al-Azhar, Ahmad al-Tayyib, untuk mengakhiri peperangan dan konflik di kawasan.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini, konflik antara Yaman dan Arab Saudi merupakan salah satu krisis kawasan yang paling menyita perhatian.

Karena itu, menurutnya, fakta-fakta mengenai agresi Arab Saudi terhadap rakyat Yaman sejak tahun 2015 perlu disampaikan kepada masyarakat luas.

Dalam sebuah pesan yang ditujukan kepada Syekh Al-Azhar hari ini, Abdulsalam menulis bahwa rakyat Yaman tidak pernah menjadi sumber ancaman bagi Arab Saudi dan tidak pernah memulai peperangan terhadap negara tersebut.

Ia menjelaskan bahwa perselisihan yang terjadi di Yaman sebelum Maret 2015 merupakan persoalan internal yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui dialog dan saling pengertian tanpa intervensi militer asing.

Ia mengingatkan bahwa serangan militer Arab Saudi dimulai pada 26 Maret 2015 melalui serangan udara terhadap Bandara Internasional Sana'a dan sebuah kawasan permukiman yang berdekatan dengannya, dalam operasi yang diberi nama Operasi Badai Ketegasan. Abdulsalam menilai intervensi militer tersebut tidak memiliki pembenaran.

Ia mengatakan bahwa alih-alih mengendalikan krisis internal dan menyelesaikannya melalui jalur politik, intervensi tersebut justru menyebabkan situasi semakin rumit dan konflik semakin meluas.

Ia menegaskan bahwa prinsip-prinsip Islam, persaudaraan Arab, dan hubungan bertetangga yang baik seharusnya mendorong negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, untuk mengupayakan penyelesaian perselisihan antarmasyarakat Yaman secara bersahabat, tanpa memihak salah satu pihak untuk melawan pihak lainnya.

Menurutnya, dialog merupakan jalan yang tepat untuk menyelesaikan perselisihan. Karena itu, peperangan dan pemaksaan keadaan di lapangan melalui penggunaan kekuatan harus ditinggalkan.

Abdulsalam juga mengatakan bahwa intervensi militer Arab Saudi terus berlangsung dengan disertai pembunuhan, berbagai kejahatan, dan penerapan blokade yang ketat.

Menurutnya, tindakan tersebut telah menyebabkan puluhan ribu warga tidak bersalah gugur syahid serta mengakibatkan banyak orang meninggal dunia akibat dampak blokade dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar.

Dengan menyatakan bahwa perang yang dilancarkan Arab Saudi tidak berhasil mencapai tujuannya, Abdulsalam menegaskan bahwa konsekuensi kemanusiaan dan politik dari peperangan tersebut masih terus berlangsung.

Menurut Abdulsalam, Arab Saudi tidak berhasil mengakhiri konflik melalui jalur militer demi kepentingannya sendiri dan juga belum terbebas dari konsekuensi intervensi yang semakin memperdalam penderitaan rakyat Yaman.

Kementerian Kesehatan Yaman: 562 Orang Tewas dan Terluka

Anis al-Asbahi, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Yaman, mengumumkan bahwa jumlah korban tewas dan terluka telah mencapai 562 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 155 orang gugur syahid dan 407 orang mengalami luka-luka.

Menurutnya, Provinsi Taiz menempati urutan pertama dalam jumlah korban tewas dan terluka, disusul Provinsi Saada pada urutan kedua dan Provinsi Al-Jawf pada urutan ketiga. Sebanyak 33 persen dari keseluruhan korban tercatat berada di Provinsi Taiz. Ia melaporkan bahwa pada Minggu lalu, pasukan Arab Saudi menargetkan sebuah rumah di Distrik Sahar, Provinsi Saada.

Menurut keterangannya, serangan tersebut menyebabkan 10 warga gugur syahid dan lebih dari 20 orang lainnya terluka. Sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak.

Al-Asbahi menambahkan bahwa pada hari sebelumnya, pasukan Arab Saudi juga menargetkan para nelayan di pesisir Dhubab. Akibat serangan tersebut, delapan nelayan gugur syahid. Ia menilai tindakan tersebut sebagai peningkatan serangan yang menargetkan warga sipil beserta sumber mata pencaharian mereka. Ia juga melaporkan serangan lainnya di kawasan Al-Nashmah, Distrik Al-Ma'afir, Provinsi Taiz.

Menurutnya, serangan tersebut menargetkan sebuah tempat tinggal yang aman dan menyebabkan seorang ibu beserta tiga anaknya mengalami luka-luka. Juru Bicara Kementerian Kesehatan Yaman itu menegaskan bahwa serangan pasukan Arab Saudi selama dua hari terakhir telah menyebabkan 117 orang gugur syahid dan terluka. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 orang gugur syahid.

Ia menilai angka-angka tersebut sebagai bukti berlanjutnya serangan terhadap warga sipil dan meningkatnya pelanggaran terhadap hak-hak mereka.

Mengenai jumlah korban yang gugur syahid di berbagai provinsi, Al-Asbahi mengatakan bahwa dalam rentang waktu 3 September hingga 18 Oktober, tercatat sebanyak 41 korban gugur syahid di Provinsi Taiz, 36 orang di Provinsi Saada, 20 orang di Provinsi Al-Jawf, dan 18 orang di Provinsi Dhamar.

Pada akhir pernyataannya, ia mengatakan bahwa peningkatan ketegangan dimulai dengan pengeboman Bandara Internasional Sana'a dan berbagai tindakan provokatif yang menyebabkan berakhirnya tahap gencatan senjata dan penurunan ketegangan.

Menurut Al-Asbahi, sikap pihak Arab Saudi yang bersikeras melanjutkan blokade terhadap bandara-bandara dan menghambat solusi-solusi kemanusiaan telah menjadikan tindakan Angkatan Bersenjata Yaman dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha